twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Tuesday, February 4, 2014

RERAHINAN JAGAT

RERAINAN JAGAT


KAJIAN MATERI.

Materi ini menjadi pilihan topik yang perlu dikaji lebih mendalam. Selama ini, hari-hari yang dinamakan rerainan lebih diaktualisasikan dalam suatu bentuk persembahan ( wujud ) ritual berupa banten dan segehan/caru yang dibingkai dengan tatanan nistamadya, dan utama, serta dibarengi dengan gerak laku ( karma marga ) yakni persembahan diri ( persembahyangan ).


LATAR BELAKANG.

Ada baiknya, perayaan hari raya yang telah berjalan di masyarakat tersebut direnungkan kembali. Mencari tahu, sejak kapan rerainan itu mentradisi di Bali ?, Mengapa rerainan itu ada, tentunya ada makna, tujuan, dan sudah dipastikan harinya ( dewasa ) ?, serta masyarakat sudah secara turun temurun melaksanakannya tanpa berani merubah, apalagi meniadakannya. Sebelum melangkah lebih jauh untuk melakukan pengkajian materi ini, perlu diketahui latar belakang agenda kegiatan ini diadakan.

PURNAMA DAN TILEM

Purnama Dan Tilem

Purnama dan Tilem adalah hari suci bagi umat Hindu, dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Hyang Widhi. Hari Purnama, sesuai dengan namanya, jatuh setiap malam bulan penuh (Sukla Paksa). Sedangkan hari Tilem dirayakan setiap malam pada waktu bulan mati (Krsna Paksa). Kedua hari suci ini dirayakan setiap 30 atau 29 hari sekali.


Pada hari Purnama dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Chandra, sedangkan pada hari Tilem dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Surya. Keduanya merupakan manifestasi dari Hyang Widhi yang berfungsi sebagai pelebur segala kekotoran (mala). Pada kedua hari ini hendaknya diadakan upacara persembahyangan dengan rangkaiannya berupa upakara yadnya. Beberapa sloka yang berkaitan dengan hari Purnama dan Tilem dapat ditemui dalam Sundarigama yang mana disebutkan:

Monday, February 3, 2014

MAKNA DARI HARI TUMPEK LANDEP. DI JAMAN ERA SERBA INSTAN

 MAKNA DARI HARI TUMPEK LANDEP. DI JAMAN ERA SERBA INSTAN
Tumpek Landep.

Dari sudut pandang Pasupati. Di dalam sebuah lembaga kehidupan – biji sinar Matahari, terkandung Sanghyang Tripurusa ; dan atas kehendak, Sanghyang Paramasiwa memasuki Sanghyang Sadhasiwa, Sanghyang Sadasiwa memasuki Sanghyang Sadarudra alias Siwa, kemudian memasuki Dewa Wisnu, sebagai Sanghyang Pasupati. Analoginya seperti ini, seandainya biji Anung ( Atom ) tidak dilapisi oleh zat air maka apa saja yang dimasuki akan Pralaya – hangus terbakar. Lapisan yang kuat dari Dewa Wisnu disebut Kulit Ari. Di dalam kulit Ari selalu akan ada cairan bening, berasal dari air suci Dewa Wisnu ; Dewa Wisnu, merupakan manifestasi Tuhan dalam konteks menciptakan pelindung. Sanghyang Pasupati erat kaitannya dengan kelahiran Manusia.

Sinar Matahari dan Bulan dikatakan sebagai perantara pati dan urip. Dalam tattwa Kalepasan dan Kamoksan dijelaskan, bahwa datang dan perginya Paratma ke Alam Sorga sebagai perantaranya adalah Cahaya Matahari dan Bulan. Sinar Bulan menurunkan zat-zat dari Pretiwi yang melapisi Bhuana sebagai media dari Paratma. Media itu, yakni :

HAKIKAT DAN PELAKSANAAN PITRA YADNYA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang.
            Kerangka dasar ajaran agama Hindu adalah Tatwa (filsafat), Susila (ethika) dan upacara (rituil). Ketingga kerangka dasar tersebut tidak berdiri sendiri tetapi merupakan suatu kesatuan yang harus dimiliki dan dilaksanakan (Anonim, 1968). Kehidupan masyarakat Bali sehari-harinya didasari atas filsafat Tri Hita Karana yaitu kearmonisan hidup yang bahagia dengan tiga sumber penyebab yang tidak lain adalah dari Tuhan, manusia dan alam sekitarnya ( Purnomohadi, 1993). Penerapan Tri Hita Karana dalam pelaksanaan upacara dan yadnya pada kehidupan sehari-harinya adalah sebagai berikut :

Sunday, February 2, 2014

Panca Yadnya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang.
            Kerangka dasar ajaran agama Hindu adalah Tatwa (filsafat), Susila (ethika) dan upacara (rituil). Ketingga kerangka dasar tersebut tidak berdiri sendiri tetapi merupakan suatu kesatuan yang harus dimiliki dan dilaksanakan (Anonim, 1968). Kehidupan masyarakat Bali sehari-harinya didasari atas filsafat Tri Hita Karana yaitu kearmonisan hidup yang bahagia dengan tiga sumber penyebab yang tidak lain adalah dari Tuhan, manusia dan alam sekitarnya ( Purnomohadi, 1993). Penerapan Tri Hita Karana dalam pelaksanaan upacara dan yadnya pada kehidupan sehari-harinya adalah sebagai berikut :

Friday, September 20, 2013

Daksina

UNSUR-UNSUR DAKSINA

unsur-unsur yang membentuk daksina:
 1. Alas bedogan/srembeng/wakul/katung; terbuat dari janur/slepan yang bentuknya bulat dan sedikit panjang serta ada batas pinggirnya . Alas Bedogan ini lambang pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas.
2.   Bedogan/ srembeng/wakul/katung/ srobong daksina ;terbuat dari janur/slepan yang dibuta melinkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul. Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa yang tanpa tepi. Srembeng daksina juga merupakan lambang dari hukum Rta ( Hukum Abadi tuhan ).
3.  Tampak; dibuat dari dua potongan janur lalu dijahit sehinga membentuk tanda tambah. Tampat adalah lambang keseimbangan baik makrokosmos maupun mikrokosmos.
4.   Beras; lambang dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di dunia ini.  Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva).
5.  Porosan; terbuat dari daun sirih, kapur dan pinang diikat sedemikian rupa sehingga menjadi satu, porosan adalah lambang pemujaan.

YADNYA DALAM KELANGSUNGAN HIDUP UMAT HINDU


YADNYA  DALAM KELANGSUNGAN HIDUP UMAT HINDU


Kata Yadnya berasal dari bahasa Sansekerta, akar-akar “Yaj”, yang artinya memuja, mempersembahkan, pengorbanan, menjadikan suci.Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam Yadnya yaitu keikhlasan, kesucian dan pengabdian tanpa pamrih.
Dalam Atharwa Weda XVII.3 dinyatakan bentuk Yadnya yang paling tinggi adalah pengorbanan lahir batin. Maka dari itu semangat patriotisme yang diajarkan dalam Bhagawadgita, Mahabharata, Ramayana sangat tepat ksatria yang ber Yadnya di medan perang. Maknanya sebagai pembela tanah air, menegakkan kebenaran dan keadilan.

KONSEP PANCA YADNYA DAN FILOSOFI NILAI DALAM KELANGSUNGAN HIDUP UMAT HINDU


KONSEP PANCA YADNYA DAN FILOSOFI NILAI DALAM KELANGSUNGAN HIDUP UMAT HINDU

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Ajaran agama Hindu memiliki kerangka yang kuat, karena menampilkan ajaran Tatwa, susila dan yadnya.Tatwa mengisi kecerdasan otak.Melatih memandang rahasia-rahasia yang dimiliki Tuhan, dan rahasia dalam diri, serta rahasia-rahasia dalam alam lingkungannya.Dengan demikian manusia atau umat Hindu wajar berpikir sedalam-dalamnya tentang hal tersebut.Susila adalah menyuguhkan ajaran untuk melatih tingkah laku yang berperan menumbuhkan peningkatan rasa pada setiap pemeluk.Disinilah kemantapan dari humanisme yang kekal.Masyarakat Bali yang mayoritas adalah penganut agama Hindu, mempunyai suatu kepercayaan yang tidak lepas dari kebudayaan Bali. Dalam ajaran Hindu menyebutkan bahwa mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang diperlukan adanya persembahan suci yang tulus ikhlas yang dikenal dengan nama Yadnya. Disini terdapat lima yadnya yang selanjutnya dikenal dengan istilah PancaYadnya yaitu lima persembahan suci yang tulus ikhlas. Yadnya adalah menyuguhkan ajaran rela berkorban yang pada hakikatnya adalah memelihara hidup, sebab semua yang hidup di dunia ini bermula dari Yadnya dan tidak terlepas dengan Yadnya itu sendiri.Diketahui makhluk dengan isinya diciptakan Tuhan berdasarkan Yadnya.

 

Followers