twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Sunday, February 2, 2014

Panca Yadnya

BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang.
            Kerangka dasar ajaran agama Hindu adalah Tatwa (filsafat), Susila (ethika) dan upacara (rituil). Ketingga kerangka dasar tersebut tidak berdiri sendiri tetapi merupakan suatu kesatuan yang harus dimiliki dan dilaksanakan (Anonim, 1968). Kehidupan masyarakat Bali sehari-harinya didasari atas filsafat Tri Hita Karana yaitu kearmonisan hidup yang bahagia dengan tiga sumber penyebab yang tidak lain adalah dari Tuhan, manusia dan alam sekitarnya ( Purnomohadi, 1993). Penerapan Tri Hita Karana dalam pelaksanaan upacara dan yadnya pada kehidupan sehari-harinya adalah sebagai berikut :

UTS Saiva Sidhanta

UTS Saiva Siddhanta II
“Beberapa Jenis Banten dalam Upacara Beserta Proses Kristalisasi Sekte Yang Ada di Dalamnya”

Dosen pengampu : I Ketut Pasek Gunawan, S.Pd.H



 


IHDN
DENPASAR

Oleh  :

      Nama : Ketut Juli Sastrawan
                                              Nim     :(10.1.1.1.1.3879)
                                                     Prodi  : PAH. B/5




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI
 DENPASAR
2012

1.   Pengertian, Bagian, dan Kristalisasi Sekte Dalam Canang Sari
            Canang berasal dari kata "Can" yang berarti indah, sedangkan "Nang" berarti tujuan atau maksud (bhs. Kawi arau Jawa Kuno), Sari berarti inti atau sumber. Canang adalah satu bentuk sesajen yang berupa janur dibuat segi empat dengan dihiasi bunga. Dalam kitab Bhagawadgita, saat Khrisna (avatar Wisnu) memberikan wejangan kepada Arjuna, ada disebutkan permintaan Tuhan kepada manusia, yang kutipannya “Kepada mereka yang mempersembahkan daun, bunga, buah, dan air kepada-Ku secara tulus ikhlas, maka Aku akan menerimanya dan memberikan kebahagiaan kepada mereka”. Secara logis bisa dihubungkan ucapan Khrisna ini dengan kondisi masyarakat Hindu Bali yang mempercayai persembahan berupa sesajen yang terdiri dari unsur daun, bunga, buah, dan air dengan tulus adalah bukti bakti umat kepada Tuhan.
            Canang sari yaitu inti dari pikiran dana niat yang suci sebagai tanda bhakti/hormat kepada Hyang Widhi ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian (lontar Mpu Lutuk Alit). Canang sari adalah suatu Upakara atau banten yang selalu menyertai atau melengkapi setiap sesajen sesajen persembahan, segala Upakara yang dipersiapkan belum disebut lengkap kalau tidak di lengkapi dengan canang sari, begitu pentingnya sebuah canang sari dalam suatu Upakara atau bebanten. Dengan demikian Canang Sari bermakna untuk memohon kekuatan Widya kehadapan Sang Hyang Widhi beserta Prabhawa (manifestasi) Nya secara skala maupun niskala.

UTS Saiva Siddhanta II
“Beberapa Jenis Banten dalam Upacara Beserta Proses Kristalisasi Sekte Yang Ada di Dalamnya”

Dosen pengampu : I Ketut Pasek Gunawan, S.Pd.H



 


IHDN
DENPASAR

Oleh  :

                                    Nama : Ketut Juli Sastrawan
                                    Nim     :(10.1.1.1.1.3879)
                                    Prodi  : PAH. B/5




JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI
 DENPASAR
2012

1.   Pengertian, Bagian, dan Kristalisasi Sekte Dalam Canang Sari
            Canang berasal dari kata "Can" yang berarti indah, sedangkan "Nang" berarti tujuan atau maksud (bhs. Kawi arau Jawa Kuno), Sari berarti inti atau sumber. Canang adalah satu bentuk sesajen yang berupa janur dibuat segi empat dengan dihiasi bunga. Dalam kitab Bhagawadgita, saat Khrisna (avatar Wisnu) memberikan wejangan kepada Arjuna, ada disebutkan permintaan Tuhan kepada manusia, yang kutipannya “Kepada mereka yang mempersembahkan daun, bunga, buah, dan air kepada-Ku secara tulus ikhlas, maka Aku akan menerimanya dan memberikan kebahagiaan kepada mereka”. Secara logis bisa dihubungkan ucapan Khrisna ini dengan kondisi masyarakat Hindu Bali yang mempercayai persembahan berupa sesajen yang terdiri dari unsur daun, bunga, buah, dan air dengan tulus adalah bukti bakti umat kepada Tuhan.

Friday, September 20, 2013

Yoga dalam hidup


PANDANGAN YOGA DALAM PENGALAMAN HIDUP

A. Pengertian Yoga secara Umum.
Istilah yoga dalam bahasa Sansekerta berasal dari akar kata yuj yang berarti pasangan. Ini dimaksudkan pasangan jiwa pribadi (jivatman) dengan jiwa universal (paramatman). Wujud pelaksanaan yoga dirumuskan sebagai suatu sistem untuk membudidayakan hidup ini untuk perilaku manusia yang lebih tepat. Dengan tujuan antara lain untuk melengkapi kekurangan dan memelihara kesehatan  baik dalam badan jasmani dan rohani serta untuk pengembangan intelektual diri.
Filsafat yoga adalah sumbangsih yang tak ternilai mutunya dari pilosopi Patanjali ini bagi mereka yang merindukan adanya jiwa sebagai suatu identitas substansi yang mandiri, terbebas dari batas-batas kehadiran badan jasmani, panca indra dan pikiran. 
            Yoga berasal dari bahasa Sansakerta yang berarti penyatuan, yang bermakna luas penyatuan dengan alam atau penyatuan dengan Sang Pencipta. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi dimana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Masyarakat umum mengenal yoga sebagai aktifitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari Hatta Yoga. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif, biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernafasan oleh tubuh dan meditasi yang telah dikenal dan dipraktikkan selama lebih dari 5000 tahun.

 

Followers