twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Monday, February 3, 2014

MAKNA DARI HARI TUMPEK LANDEP. DI JAMAN ERA SERBA INSTAN

 MAKNA DARI HARI TUMPEK LANDEP. DI JAMAN ERA SERBA INSTAN
Tumpek Landep.

Dari sudut pandang Pasupati. Di dalam sebuah lembaga kehidupan – biji sinar Matahari, terkandung Sanghyang Tripurusa ; dan atas kehendak, Sanghyang Paramasiwa memasuki Sanghyang Sadhasiwa, Sanghyang Sadasiwa memasuki Sanghyang Sadarudra alias Siwa, kemudian memasuki Dewa Wisnu, sebagai Sanghyang Pasupati. Analoginya seperti ini, seandainya biji Anung ( Atom ) tidak dilapisi oleh zat air maka apa saja yang dimasuki akan Pralaya – hangus terbakar. Lapisan yang kuat dari Dewa Wisnu disebut Kulit Ari. Di dalam kulit Ari selalu akan ada cairan bening, berasal dari air suci Dewa Wisnu ; Dewa Wisnu, merupakan manifestasi Tuhan dalam konteks menciptakan pelindung. Sanghyang Pasupati erat kaitannya dengan kelahiran Manusia.

Sinar Matahari dan Bulan dikatakan sebagai perantara pati dan urip. Dalam tattwa Kalepasan dan Kamoksan dijelaskan, bahwa datang dan perginya Paratma ke Alam Sorga sebagai perantaranya adalah Cahaya Matahari dan Bulan. Sinar Bulan menurunkan zat-zat dari Pretiwi yang melapisi Bhuana sebagai media dari Paratma. Media itu, yakni :


1. Brahma-atma, ~ Bhur loka.         5. Anti-atma, ~ Jana loka.
2. Antara-atma, ~ Bwah loka.         6. Niskala-atma, ~ Tapa loka.
3. Para-atma, ~ Swah loka.             7. Sunia-atma, ~ Satya loka.
4. Nir-atma, ~ Maha loka.
.         
Dikatakan Loka, karena lapisan ini terdiri dari uapan zat-zat Bumi yang tidak terpengaruh oleh gaya grafitasi bumi. Uapan zat-zat bumi ini langsung menjadi pelapis Bhuana. Bhu artinya zat-zat yang sudah halus, dapat dikatakan unsur-unsur Hara, menjadi Saraswa, sebagai penyebab adanya Gelombang/getaran. Sinar Bulan selalu dalam keadaan sejuk/dingin, itu sebabnya Dewi Bulan disebut Ratih ; Rat artinya kumpulan unsur-unsur zat padat, sebagai kules, konotasinya kulit Ari ; dan Ih artinya sudah pada kodratnya, atas kehendak Tuhan. Jadi, sudah pada hakekatnya Anung/Atom itu disebut Smara, dan unsur-unsur zat yang disebabkan oleh adanya Bulan disebut Ratih ( Smara Ratih ).

Kembali pada kelahiran manusia. Awatara datang dari Paing – Brahman ; Sang Mateja datang dari alam Dewa – Pasah, alam Langit, sinar/cahaya/Div  ; Sang Nyrewadi, Numadi datang dari alam BhuanaWage, alam pelindung yaitu alam Bhetara / alam Leluhur, merupakan jalur untuk bereinkarnasi ; Sang Numitis datang dari Sorga dunia dan Neraka dunia. Sorga yang terdekat berada di wilayah Pura-pura, yakni : Pura Pedharman dan Pura Khayangan jagat.

Semua kejadian tersebut diatas kasuluhan dening Surya Candra, sehingga Tumpek Landep dan Redita Umanis Ukir berhubungan erat. Redite Umanis Ukir adalah pengakuan dan kehomatan kepada Tuhan dan Alam, yang diterangi oleh Matahari dan Bulan sebagai kodrat penerangan Maha Guru. Ukir itu berarti Gunung, maksudnya para Resi Agung Tapeng Gunung sebagai penerima Wahyu dari Wasa Wasitwa ( Sadhasiwa ). Kemudian, Redite Umanis Ukir ditetapkan sebagai hari rerainan jagat Piodalan Mahaguru / Sanghyang Pramesti Guru. Kata Pramesti berasal dari akar kata Prami dan esti ; Prami adalah Dewi Uma, dampati dari Bhetara Guru ; sedangkan Esti artinya langgeng pada kodratnya sebagai pintu datang dan perginya Paramatma.

I.      Energi Alam dipandang bagaikan sebilah keris

Cahaya alam Langit diteruskan oleh Matahari, Bulan, dan Bintang. Kalau kita dalami kejadian yang ada di Alam/Bhuana Agung, dikatakan bahwa Bulan dan Bintang sebagai pengadaan Sarung dan Keris. Mengapa pada malam hari ?, karena unsur-unsur zat yang ada pada Sapta loka – tujuh lapisan, dikristalkan oleh dinginnya sang malam, kemudian, dimasuki oleh Anung ( Atom ) dari Cahaya Alam Langit, sebagai kerisnya. Dan, keris yang sudah terbentuk di Bhuana Agung oleh Sanghyang Pramesti GuruUma-Guru, memasuki makhluk hidup, selanjutnya masuk ke tubuh manusia. Jadi, manusialah sekarang sebagai Sarung dari keris tersebut.

Keris tidak terlepas dari makna ketajamannya, yang terdiri dari tiga sisi ketajaman, yang dijadikan lambang Tri Murti. Pada sisi kanan, adalah ketajaman Brahma, sisi kiri adalah tajamnya Wisnu, dan ujung keris merupakan tajamnya Iswara. Intinya, lebih pada penyebab ketajaman dari tujuan dan pikiran manusia yang menjadi pangkal kekuatan hidup. Dengan kata lain, ketajaman keris itu menjadi kecerdasan Spiritual, kecerdasan Intelektual, dan Kecerdasan Emosional. Dan untuk mengasah ketajaman Keris adalah dengan Brata ; Brata artinya mengurangi santapan, yaitu :
1.      Mengurangi mengkonsumsi beras dan ketan, diganti dengan pala bungkah dari jenis umbi-umbian, seperti umbi Talas, Umbi Ketela rambat, umbi ketela pohon. Umbi-umbian tersebut bisa disantap dengan menambahkan sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan sarwa wija : jagung. Serta, selama menjalankan brata dapat mengkonsumsi buah-buahan. Tujuannya, mengurangi kadar karbohidrat di dalam tubuh.

2.      Mengurangi berbicara yang tidak ada gunanya. Selama mabrata, berhenti bersenda gurau dengan bahasa yang kurang baik ; tidak berucap kasar atau pun memaki-maki, apalagi pada saat perut panas. Arahkan ucapan tersebut pada hal-hal yang bermanfaat. Tujuannya, mengurangi energi keluar secara berlebihan.

3.      Hindarkan bepergian ke tempat-tempat hiburan yang rentan dengan ikatan emosional. Mengurangi santapan Indria, Panca Indria.

Semua Brata yang dilakukan pada saat rerainan jagat mengarah pada keseimbangan jaba-jro, namun tidak sampai mengurangi aktifitas rutin sehari-hari, seperti bekerja sebagaimana mestinya. Jika ketiga faktor tersebut sudah dilaksanakan, itulah proses menghaluskan Budi, dan menciptakan keluhuran Budi.


II.      Mengetahui kebenaran Triguna

Triguna yang umum dikenal oleh kalangan masyarakat di Bali hanya sebatas pada ucapan Satwan, Rajas, dan Tamas. Dalam Lontar Pangupadesa, dijelaskan tentang Triguna, seperti kutipan berikut ini :

1.      Tamas = Sabda ; Wyepara = Siwa = Atmika Tattwa ; hanya dengan melaksanakan Brata sifat rakus, loba, dan sejenisnya bisa dikurangi. Atau dengan mengatur pola makan. Siwa yang memasuki Atmika Tattwa, artinya Siwa yang memasuki Alam kegelapan. Jelasnya, ketika kita melihat ke dalam diri – dengan memejamkan mata, maka yang tampak pada mulanya hanyalah suasana gelap, inilah yang dinamakan Tattwa Punggung dan Tattwa Malupa. Tamas konotasinya Sabda wiapara, artinya Budi Tamas, merupakan sumber penyebab dari rasa takut, seperti : takut miskin, kelaparan, kecewa, dihina dan lain sebagainya. Sama halnya dengan orang-orang yang belum mampu memandang celah kehidupan atau pun belum menghasilkan, maka kerjanya hanya meminta makan dari orang yang menanggung beban hidupnya.

2.      Rajas = Sabda ; langgeng = Sadasiwa ; dengan melakukan Yasa atas apa yang dilakoni merupakan upaya untuk memperbaiki Rajas, artinya bagi orang-orang yang telah mempunyai skill atau keahlian kerja, hanya dengan ngeyasain Rajas itu sendiri, maka ada perubahan. Tegasnya, sudah ada kesiapan untuk menerima apa adanya, dan telah menyadari bahwa hidup ini membutuhkan sarana penunjang seperti : sandang, pangan, dan papan – kebutuhan untuk berlindung dari keadaan panas dan hujan. Dengan demikian sudah mengarah pada kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup, serta lebih menyadari bahwa Alam Semesta ini dianggap seorang Ibu yang selalu menjamin kelangsungan hidupnya. Jadi, ketika seseorang sudah mempunyai pandangan hidup dan sanggup untuk mandiri, dikatakan sebagai Sabda Langgeng. Sebab, pikiran dan intuisinya telah bekerja dan berkembang, seolah-olah selalu memunculkan inspirasi dari dalam dirinya sendiri. Ini berarti sudah menghasilkan banyak Ide yang positif.

3.      Satwan konotasinya Tutur Jati ; meningkatkan Sattwam adalah dengan Yoga dan Semadi. Sattwam adalah sifat-sifat yang ada pada Sattwa ( Pasu ), misalnya : Lubdaka, adalah seekor Harimau, aktifitasnya selalu memburu kebutuhan pangan saja. Sifat-sifat itu ada pada diri manusia, dan manusia disebut Parapasu. Dalam mithologi, dikisahkan bahwa si Lubdaka mampu melewati kegelapan malam. Dengan begadang semalam suntuk ( jagra ), dikatakan bahwa ia telah melakukan penebusan dosa. Esensinya, manusia adalah makhluk yang mempunyai rasio. Sattwam diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah mampu meningkatkan pemahamannya terhadap keberadaan Alam Semesta ini. Bahwa ada yang menciptakan alam semesta ini, dan meyakini bahwa Tuhan Yang Mahapencipta, Yang Sejati Adalah Tuhan. Di sisi lain, bahwa Alam ini bersifat Maya – disebut alam maya, Mayapada. Orang-orang yang sudah mempunyai pandangan terhadap : Tuhan sebagai Yang Sejati, Alam sebagai Alam Maya,  maka, Satwan itu disebut Tutur Jati.

Dengan penjelasan Triguna seperti di atas, selanjutnya kita mempunyai pandangan yang positif menuju tugas dan kewajiban hidup yang baik dan benar. Lebih ditekankan pada tujuan pokok, menuju Paramartasiwa – sebagai tujuan Yang Tertinggi.


Tumpek Landep.

Dari sudut pandang Pasupati. Di dalam sebuah lembaga kehidupan – biji sinar Matahari, terkandung Sanghyang Tripurusa ; dan atas kehendak, Sanghyang Paramasiwa memasuki Sanghyang Sadhasiwa, Sanghyang Sadasiwa memasuki Sanghyang Sadarudra alias Siwa, kemudian memasuki Dewa Wisnu, sebagai Sanghyang Pasupati. Analoginya seperti ini, seandainya biji Anung ( Atom ) tidak dilapisi oleh zat air maka apa saja yang dimasuki akan Pralaya – hangus terbakar. Lapisan yang kuat dari Dewa Wisnu disebut Kulit Ari. Di dalam kulit Ari selalu akan ada cairan bening, berasal dari air suci Dewa Wisnu ; Dewa Wisnu, merupakan manifestasi Tuhan dalam konteks menciptakan pelindung. Sanghyang Pasupati erat kaitannya dengan kelahiran Manusia.

Sinar Matahari dan Bulan dikatakan sebagai perantara pati dan urip. Dalam tattwa Kalepasan dan Kamoksan dijelaskan, bahwa datang dan perginya Paratma ke Alam Sorga sebagai perantaranya adalah Cahaya Matahari dan Bulan. Sinar Bulan menurunkan zat-zat dari Pretiwi yang melapisi Bhuana sebagai media dari Paratma. Media itu, yakni :

1. Brahma-atma, ~ Bhur loka.         5. Anti-atma, ~ Jana loka.
2. Antara-atma, ~ Bwah loka.         6. Niskala-atma, ~ Tapa loka.
3. Para-atma, ~ Swah loka.             7. Sunia-atma, ~ Satya loka.
4. Nir-atma, ~ Maha loka.
.         
Dikatakan Loka, karena lapisan ini terdiri dari uapan zat-zat Bumi yang tidak terpengaruh oleh gaya grafitasi bumi. Uapan zat-zat bumi ini langsung menjadi pelapis Bhuana. Bhu artinya zat-zat yang sudah halus, dapat dikatakan unsur-unsur Hara, menjadi Saraswa, sebagai penyebab adanya Gelombang/getaran. Sinar Bulan selalu dalam keadaan sejuk/dingin, itu sebabnya Dewi Bulan disebut Ratih ; Rat artinya kumpulan unsur-unsur zat padat, sebagai kules, konotasinya kulit Ari ; dan Ih artinya sudah pada kodratnya, atas kehendak Tuhan. Jadi, sudah pada hakekatnya Anung/Atom itu disebut Smara, dan unsur-unsur zat yang disebabkan oleh adanya Bulan disebut Ratih ( Smara Ratih ).

Kembali pada kelahiran manusia. Awatara datang dari Paing – Brahman ; Sang Mateja datang dari alam Dewa – Pasah, alam Langit, sinar/cahaya/Div  ; Sang Nyrewadi, Numadi datang dari alam BhuanaWage, alam pelindung yaitu alam Bhetara / alam Leluhur, merupakan jalur untuk bereinkarnasi ; Sang Numitis datang dari Sorga dunia dan Neraka dunia. Sorga yang terdekat berada di wilayah Pura-pura, yakni : Pura Pedharman dan Pura Khayangan jagat.

Semua kejadian tersebut diatas kasuluhan dening Surya Candra, sehingga Tumpek Landep dan Redita Umanis Ukir berhubungan erat. Redite Umanis Ukir adalah pengakuan dan kehomatan kepada Tuhan dan Alam, yang diterangi oleh Matahari dan Bulan sebagai kodrat penerangan Maha Guru. Ukir itu berarti Gunung, maksudnya para Resi Agung Tapeng Gunung sebagai penerima Wahyu dari Wasa Wasitwa ( Sadhasiwa ). Kemudian, Redite Umanis Ukir ditetapkan sebagai hari rerainan jagat Piodalan Mahaguru / Sanghyang Pramesti Guru. Kata Pramesti berasal dari akar kata Prami dan esti ; Prami adalah Dewi Uma, dampati dari Bhetara Guru ; sedangkan Esti artinya langgeng pada kodratnya sebagai pintu datang dan perginya Paramatma.

I.      Energi Alam dipandang bagaikan sebilah keris

Cahaya alam Langit diteruskan oleh Matahari, Bulan, dan Bintang. Kalau kita dalami kejadian yang ada di Alam/Bhuana Agung, dikatakan bahwa Bulan dan Bintang sebagai pengadaan Sarung dan Keris. Mengapa pada malam hari ?, karena unsur-unsur zat yang ada pada Sapta loka – tujuh lapisan, dikristalkan oleh dinginnya sang malam, kemudian, dimasuki oleh Anung ( Atom ) dari Cahaya Alam Langit, sebagai kerisnya. Dan, keris yang sudah terbentuk di Bhuana Agung oleh Sanghyang Pramesti GuruUma-Guru, memasuki makhluk hidup, selanjutnya masuk ke tubuh manusia. Jadi, manusialah sekarang sebagai Sarung dari keris tersebut.

Keris tidak terlepas dari makna ketajamannya, yang terdiri dari tiga sisi ketajaman, yang dijadikan lambang Tri Murti. Pada sisi kanan, adalah ketajaman Brahma, sisi kiri adalah tajamnya Wisnu, dan ujung keris merupakan tajamnya Iswara. Intinya, lebih pada penyebab ketajaman dari tujuan dan pikiran manusia yang menjadi pangkal kekuatan hidup. Dengan kata lain, ketajaman keris itu menjadi kecerdasan Spiritual, kecerdasan Intelektual, dan Kecerdasan Emosional. Dan untuk mengasah ketajaman Keris adalah dengan Brata ; Brata artinya mengurangi santapan, yaitu :
1.      Mengurangi mengkonsumsi beras dan ketan, diganti dengan pala bungkah dari jenis umbi-umbian, seperti umbi Talas, Umbi Ketela rambat, umbi ketela pohon. Umbi-umbian tersebut bisa disantap dengan menambahkan sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan sarwa wija : jagung. Serta, selama menjalankan brata dapat mengkonsumsi buah-buahan. Tujuannya, mengurangi kadar karbohidrat di dalam tubuh.

2.      Mengurangi berbicara yang tidak ada gunanya. Selama mabrata, berhenti bersenda gurau dengan bahasa yang kurang baik ; tidak berucap kasar atau pun memaki-maki, apalagi pada saat perut panas. Arahkan ucapan tersebut pada hal-hal yang bermanfaat. Tujuannya, mengurangi energi keluar secara berlebihan.

3.      Hindarkan bepergian ke tempat-tempat hiburan yang rentan dengan ikatan emosional. Mengurangi santapan Indria, Panca Indria.

Semua Brata yang dilakukan pada saat rerainan jagat mengarah pada keseimbangan jaba-jro, namun tidak sampai mengurangi aktifitas rutin sehari-hari, seperti bekerja sebagaimana mestinya. Jika ketiga faktor tersebut sudah dilaksanakan, itulah proses menghaluskan Budi, dan menciptakan keluhuran Budi.


II.      Mengetahui kebenaran Triguna

Triguna yang umum dikenal oleh kalangan masyarakat di Bali hanya sebatas pada ucapan Satwan, Rajas, dan Tamas. Dalam Lontar Pangupadesa, dijelaskan tentang Triguna, seperti kutipan berikut ini :

1.      Tamas = Sabda ; Wyepara = Siwa = Atmika Tattwa ; hanya dengan melaksanakan Brata sifat rakus, loba, dan sejenisnya bisa dikurangi. Atau dengan mengatur pola makan. Siwa yang memasuki Atmika Tattwa, artinya Siwa yang memasuki Alam kegelapan. Jelasnya, ketika kita melihat ke dalam diri – dengan memejamkan mata, maka yang tampak pada mulanya hanyalah suasana gelap, inilah yang dinamakan Tattwa Punggung dan Tattwa Malupa. Tamas konotasinya Sabda wiapara, artinya Budi Tamas, merupakan sumber penyebab dari rasa takut, seperti : takut miskin, kelaparan, kecewa, dihina dan lain sebagainya. Sama halnya dengan orang-orang yang belum mampu memandang celah kehidupan atau pun belum menghasilkan, maka kerjanya hanya meminta makan dari orang yang menanggung beban hidupnya.

2.      Rajas = Sabda ; langgeng = Sadasiwa ; dengan melakukan Yasa atas apa yang dilakoni merupakan upaya untuk memperbaiki Rajas, artinya bagi orang-orang yang telah mempunyai skill atau keahlian kerja, hanya dengan ngeyasain Rajas itu sendiri, maka ada perubahan. Tegasnya, sudah ada kesiapan untuk menerima apa adanya, dan telah menyadari bahwa hidup ini membutuhkan sarana penunjang seperti : sandang, pangan, dan papan – kebutuhan untuk berlindung dari keadaan panas dan hujan. Dengan demikian sudah mengarah pada kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup, serta lebih menyadari bahwa Alam Semesta ini dianggap seorang Ibu yang selalu menjamin kelangsungan hidupnya. Jadi, ketika seseorang sudah mempunyai pandangan hidup dan sanggup untuk mandiri, dikatakan sebagai Sabda Langgeng. Sebab, pikiran dan intuisinya telah bekerja dan berkembang, seolah-olah selalu memunculkan inspirasi dari dalam dirinya sendiri. Ini berarti sudah menghasilkan banyak Ide yang positif.

3.      Satwan konotasinya Tutur Jati ; meningkatkan Sattwam adalah dengan Yoga dan Semadi. Sattwam adalah sifat-sifat yang ada pada Sattwa ( Pasu ), misalnya : Lubdaka, adalah seekor Harimau, aktifitasnya selalu memburu kebutuhan pangan saja. Sifat-sifat itu ada pada diri manusia, dan manusia disebut Parapasu. Dalam mithologi, dikisahkan bahwa si Lubdaka mampu melewati kegelapan malam. Dengan begadang semalam suntuk ( jagra ), dikatakan bahwa ia telah melakukan penebusan dosa. Esensinya, manusia adalah makhluk yang mempunyai rasio. Sattwam diperuntukkan bagi orang-orang yang sudah mampu meningkatkan pemahamannya terhadap keberadaan Alam Semesta ini. Bahwa ada yang menciptakan alam semesta ini, dan meyakini bahwa Tuhan Yang Mahapencipta, Yang Sejati Adalah Tuhan. Di sisi lain, bahwa Alam ini bersifat Maya – disebut alam maya, Mayapada. Orang-orang yang sudah mempunyai pandangan terhadap : Tuhan sebagai Yang Sejati, Alam sebagai Alam Maya,  maka, Satwan itu disebut Tutur Jati.

Dengan penjelasan Triguna seperti di atas, selanjutnya kita mempunyai pandangan yang positif menuju tugas dan kewajiban hidup yang baik dan benar. Lebih ditekankan pada tujuan pokok, menuju Paramartasiwa – sebagai tujuan Yang Tertinggi.




Ditulis Oleh : Unknown // 1:44 PM
Kategori:

0 komentar:

 

Followers